Bunga Rosella

Bunga rosella memiliki kandungan nutrisinya yang baik untuk kesehatan, di antaranya vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin C, kalsium, kalium, fosfor, natrium, beta karoten, omega 3, antosianin, dan gosipetin.


Bunga rosella juga kaya protein dan 18 jenis asam amino yang sangat berkhasiat. Olahan teh bunga rosella atau dikenal juga dengan sour tea memiliki rasa yang asam, biasanya dibuat dari campuran daun, kelopak, dan pucuk bunga rosella.

Cara membuat teh rosella :

  1. Petik bunga Rosella yang sudah mekar
  2. Cuci bunga Rosella dengan air hingga bersih.
  3. Rebus Rosella dengan air mendidih hingga berwarna kemerahan.
  4. Setelah berwarna kemerahan, angkat dan tuangkan dalam gelas.
  5. Tambahkan madu atau gula sesuai selera Anda untuk mengurangi rasa asam.
  6. Teh bunga Rosella siap untuk menyegarkan tenggorokan dan tubuh Anda.
  7. Teh Rosella juga dapat dinikmati saat dingin, masukan dalam kulkas dan minum teh tersebut saat masih dingin.

Khasiat bunga rosela antara lain untuk menurunkan asam urat, hipertensi, diabetes mellitus, memperbaiki metabolisme tubuh, melangsingkan Tubuh, menghambat sel kanker, mencegah sariawan dan panas dalam, menambah vitalitas, meredakan batuk, mencegah flu, antioksidan, antihipertensi, antikanker, antidepresi, antibiotik, aprodisiak, diuretik (peluruh kencing), sedatif, tonik, dan menurunkan absorpsi alkohol. 

Pemanfaatan kelopak bunga Rosela sudah dikenal dan diteliti baik oleh pakar kesehatan modern maupun pakar kesehatan tradisional di berbagai negara di dunia. Kelopak bunga tersebut diketahui mengandung zat-zat penting yang diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin C, vitamin A, protein esensial, kalsium, dan 18 jenis asam amino, termasuk arginina dan legnin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh.

Secara tradisional, ekstrak kelopak rosela berkhasiat sebagai antibiotik, aprodisiak (meningkatkan gairah seksual), diuretik (melancarkan buang air kecil), pelarut, sedativ (penenang), dan tonik.



Bagi anak-anak, mempercepat pertumbuhan otak karena mengandung omega-3 memacu pertumbuhan DNA.Melindungi dari infeksi kuman, anti bakteri, anti virus dan mengobati keracunan. 

Rosella mengandung goosypetin, anthocyanin yang bersifat sebagai antioksidan dan glucoside hibiscin yang bermanfaat sebagai peluruh kencing (diuretic), penurun kekentalan darah, pengurang tekanan darah dan perangsang peristaltik usus. Arginin dan lignin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh.

Herbal Alami Pengusir Tikus

1. BAKING SODA

Tikus tak bisa bersendawa atau mengeluarkan gas dari perutnya. Karena hal inilah kamu bisa menabur baking soda atau mencampurnya pada umpan tikus. Ketika tikus memakan umpan tersebut, maka perutnya akan kembung dan mati karena menahan gas tersebut.


2. BAWANG PUTIH

Bungkus bawang putih dengan kain kasa. Setelah dibungkus, letakkan bawang putih tersebut ke daerah yang sering dihampiri tikus.



3. KOPI

Tikus memiliki indera penciuman yang tajam. Dengan menabur bubuk kopi yang baunya kuat, tikus tak akan suka berlama-lama di seputar bebauan tersebut. Dan pastikan bahwa yang kamu taburkan adalah bubuk kopi hitam, bukan kopi dengan gula.


4. LADA

Tikus tidak menyukai aroma pedas yang dikeluarkan oleh lada hitam atau merica bubuk. Oleh karena itu, kamu bisa menaburkan lada hitam bubuk di tempat-tempat di mana kamu sering menemukan tikus. Cara ini dipercaya bisa membuat mereka kabur.


5. KANTUNG TEH BEKAS / TEH BASI

Letakkan bekas kantung teh tersebut ke sarang tikus, dan mereka pun akan mati. Peppermint dalam kantung teh bisa menyebabkan iritasi pada hidung tikus.


6. DAUN SALAM

Daun salam memang terkenal ampuh untuk mengusir hama. Jika kamu mau menggunakan bahan ini untuk mengusir tikus. Letakkan beberapa lembar daun salam pada tempat yang dilewati tikus. Pastikan untuk menggantinya setiap 2-3 hari.


7. KULIT TELUR

Giling kulit telur menjadi serbuk, kemudian taburkan serbuk tersebut ke tempat yang sering didatangi tikus. Niscaya tikus kabur.


8. CENGKEH

Tikus juga tak suka dengan aroma cengkeh. 

Berikut cara mengusir tikus dengan menggunakan cengkeh yang paling efektif:

- Keringkan cengkeh

- Bungkus cengkeh yang sudah dikeringkan dengan kain kasa

- Letakkan pada tempat yang sering didatangi tikus.


9. CUKA

Salah satu cara mengusir tikus paling ampuh selanjutnya adalah dengan menggunakan cuka. Bahan satu ini sangat cocok untuk mengusir tikus jenis curut. Cara mengusir curut atau tikus jenis lainnya dengan cuka ada dua cara:

1. Campurkan cuka pada air pel, pel seluruh lantai rumah

2. Tuangkan cuka pada bola-bola kapas, dan letakkan pada area gelap yang kerap menjadi incaran tikus.


10. GARAM

Bahan alami selanjutnya yang bisa digunakan adalah garam. Tapi, berbeda dengan bahan-bahan sebelumnya, garam harus dicampur dengan tepung dan semen putih. Memang, campuran formula ini tidak bisa dibilang alami sepenuhnya. Tapi adonan ini sangat ampuh untuk mengusir tikus.

Moringa oleifera

 Moringa oleifera is very nutritious, a fairly large tree native to North India. It goes by a variety of names, such as drumstick tree, horseradish tree or ben oil tree. Almost all parts of the tree are eaten or used as ingredients in traditional herbal medicines. This especially applies to the leaves and pods, which are commonly eaten in parts of India and Africa.


Moringa oleifera, native to India, grows in the tropical and subtropical regions of the world. It is commonly known as ‘drumstick tree’ or ‘horseradish tree’. Moringa can withstand both severe drought and mild frost conditions and hence widely cultivated across the world. With its high nutritive values, every part of the tree is suitable for either nutritional or commercial purposes. 



The leaves are rich in minerals, vitamins and other essential phytochemicals. Extracts from the leaves are used to treat malnutrition, augment breast milk in lactating mothers. It is used as potential antioxidant, anticancer, anti-inflammatory, antidiabetic and antimicrobial agent. M. oleifera seed, a natural coagulant is extensively used in water treatment. The scientific effort of this research provides insights on the use of moringa as a cure for diabetes and cancer and fortification of moringa in commercial products. This review explores the use of moringa across disciplines for its medicinal value and deals with cultivation, nutrition, commercial and prominent pharmacological properties of this “Miracle Tree”.



Moringa may lower blood sugar levels.
High blood sugar can be a serious health problem. In fact, it’s the main characteristic of diabetes.

Over time, high blood sugar levels raise the risk of many serious health problems, including heart disease. For this reason, it’s important to keep your blood sugar within healthy limits.

Interestingly, several studies have shown that Moringa oleifera may help lower blood sugar levels.

However, most of the evidence is based on animal studies. Only a few human-based studies exist, and they’re generally of low quality (18Trusted Source, 19Trusted Source, 20Trusted Source).

One study in 30 women showed that taking 1.5 teaspoons (7 grams) of moringa leaf powder every day for three months reduced fasting blood sugar levels by 13.5%, on average.

Another small study in six people with diabetes found that adding 50 grams of moringa leaves to a meal reduced the rise in blood sugar by 21%.

Scientists believe these effects are caused by plant compounds such as isothiocyanates.

Quercus infectoria

 Quercus infectoria, the Aleppo oak, is a species of oak, bearing galls that have been traditionally used for centuries in Asia medicinally. Manjakani is the name used in Malaysia for the galls; these have been used for centuries in softening leather and in making black dye and ink. In India the galls are called majuphal among many other names.



The galls of Quercus infectoria have also been pharmacologically documented to possess astringent, antidiabetic, antitremorine, local anaesthetic, antiviral, antibacterial, antifungal, larvicidal and anti-inflammatory activities. The main constituents found in the galls of Quercus infectoria are tannin (50-70%) and small amount of free gallic acid and ellagic acid.


The wide range of pharmacological activities of this plant might support the efficacy of extract preparation of Quercus infectoria that are widely used in Malaysia for treating many kinds of health problems since many decades ago. The nutgalls have been pharmacologically documented on their antiamoebic,anticariogenic and anti-inflammatory activities, to treat skin infections and gastrointestinal disorders.


Quercus infectoria can be used as a thickener in stews or mixed with cereals for making bread.

Also known as Majuphal in Indian traditional medicine, manjakani has been used as dental powder and in the treatment of toothache and gingivitis.

The so-called "Aleppo tannin" is Tannic acid gained from Aleppo oak galls, which displays unique chemical properties essential in the preparation of gold sols (colloids) used as markers in Immunocytochemistry.

Nowadays, gallnut extracts are also widely used in pharmaceuticals, food and feed additives, dyes, inks, and metallurgy.

Duwet atau Juwet atau Jamblang (Syzygium cumini)

Di beberapa daerah di Indonesia, buah juwet dikenal dengan nama yang berbeda-beda antara lain: jambu kling (Gayo), jambe kleng (Aceh), jambu kalang (Minang kabau), jamblang (Betawi dan Sunda), juwet, duwet, duwet manting (Jawa), dhalas (Madura), juwet (Bali), klayu (Sasak), duwe (Bima), jambulan (Flores), raporapo jawa (Makasar), alicopeng (Bugis), dan jambula (Ternate).

Duwet memiliki bentuk buah yang terlihat seperti anggur, dengan karakter warna ungu kehitaman. Buah pada bagian batang akan berkelompok dan sangat menyenangkan untuk dipetik. Tapi sekarang buah duwet mungkin hanya ditemukan dalam jumlah yang lebih sedikit karena banyak pohon yang mulai di tebang. Di beberapa pasar tradisional buah duwet bisa ditemukan pada bulan September hingga Oktober. Tapi ternyata sekarang buah duwet banyak dicari karena terbukti bisa menyembuhkan beberapa jenis penyakit dan manfaat pohonnya secara keseluruhan. 

Buah Duwet (Syzygium cumini)

Salah satu bahan pangan yang berpotensi untuk dijadikan pewarna alami yaitu buah duwet (Syzygium cumini). Duwet adalah buah kecil berwarna ungu, dijual dengan harga murah dan disukai beberapa anak-anak. Kenampakan kulit buah yang berwarna ungu jika masak menunjukkan adanya kandungan antosianin. Jenis antosianidin dalam buah duwet adalah petunidin 3-rhamnosa  (Carmen, 2005).


Antosianin merupakan kelompok flavonoid dari senyawa polifenol dan merupakan glikosida turunan polihidroksi dan polimetoksi kation 2-fenilbenzopirilium. Antosianin yang ditemukan pada tanaman pangan umumnya berbentuk glikosida dan asilglikosida dari 6 antosianidin utama. Hasil pengujian kandungan total antosianin (metode pH-diferensial) dari buah duwet segar yang matang rata-rata sebesar 161 mg/100  buah segar matang. Bagian kulit buah mengandung antosianin sebesar 731 mg/100 g kulit buah. Kandungan kulit buah memiliki kandunga antosianin 4,5 kali lebih besar dibandingkan  buah utuh segar yang matang. Sehingga  dapat disimpulkan bahwa kulit duwet berpotensi sebagai sumber antosianin (Puspitasari, 2009). Seperti halnya antosianin secara umum, ekstrak pigmen antosianin buah duwet juga mengalami penurunan intensitas warna merah yang disebabkan karena meningkatnya nilai pH dari 1-8.  Selain itu, statbilitas antosianin pada pH-3 mengalami penurunan karena semakin meningkatnya waktu kontak dengan oksidator, sinar UV, pemanasan dan selama penyimpanan.


Proses ekstraksi antosianin buah duwet menggunakan 3 metode yaitu dengan maserasi, pengepresan dan kombinasi. Pengepresan-maserasi merupakan metode yang lebih mudah penerapanya. Sedangkan pemilihan etanol sebagai pelarut dipertimbangkan karena keamanan dan tidak toksik bila digunakan pada produk pangan. Proses ekstraksi dapat dilakukan dengan merendam kulit atau buah duwet dalam pelarut. Ekstrak akan berlangsung lebih cepat jika dilakukan pengadukan salama perendaman berlangsung. Campuran disaring sehingga hanya mendapat pelarut dan pigmen antosianin. Pelarut dapat dipisahkan dari antosianin dengan proses evaporasi yang dilakukan pada kondisi vakum agar warna yang dihasilkan lebih baik. Hasil ekstraksi buah duwet tanpa biji dengan metode pengepresan-maserasi menghasilkan total rendemen tertinggi sebesar 11,5% serta kulit buah menghasilkan total rendemen yang tidak terlalu berbeda yaitu 11,48% (Satyatama, 2008).  

Pesan Anda